Friday, November 4, 2011

Cinta Nabi Daud a.s Kepada Allah

Nabi Daud a.s merupakan seorang hamba Allah yang sangat rajin beribadah kepada Allah. Hal ini disebutkan secara langsung oleh Nabi Muhammad s.a.w. Nabi Daud a.s sangat rajin mendekatkan diri kepada Allah, baginda sangat rajin memohon kepada Allah agar dirinya dicintai Allah. Baginda sangat mengutamakan cinta Allah lebih daripada mengutamakan dirinya sendiri, keluarganya sendiri dan air dingin yang dapat menghilangkan dahaga musafir dalam perjalanan terik di tengah padang pasir.

Rasulullah s.a.w bersabda: “Di antara doa Nabi Daud a.s ialah: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu, cintaMu dan cinta orang-orang yang mencintaiMu dan aku memohon kepadaMu perbuatan yang dapat menghantarku kepada cintaMu. Ya Allah, jadikanlah cintaMu lebih kucintai daripada diriku dan keluargaku serta air dingin.” Dan bila Rasulullah s.a.w mengingati Nabi Daud a.s baginda memberi gelaran kepadanya sebagai sebaik-baik manusia dalam beribadah kepada Allah. (HR Tirmidzi 3412)

Setidaknya terdapat empat hal penting di dalam doa ini. Pertama, Nabi Daud a.s memohon cinta Allah. Baginda sangat faham bahwa di dunia ini tidak ada cinta yang lebih patut diutamakan dan diharapkan manusia selain daripada cinta yang berasal dari Allah Ar-Rahman Ar-Rahim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Apalah ertinya seseorang hidup di dunia mendapat cinta manusia –bahkan seluruh manusia- bilamana Allah tidak mencintainya.

Semua cinta yang datang dari segenap manusia itu menjadi sia-sia sebab tidak mendatangkan cinta Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sebaliknya, tiada apa yang perlu dirisaukankan oleh seseorang apabila Allah mencintainya sementara manusia –bahkan seluruh manusia- membencinya. Kesemua kebencian manusia tersebut tidak bermakna sedikitpun karena dirinya memperoleh cinta Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Sebab itulah Nabi Daud a.s tidak menyebutkan dalam awal doanya harapan akan cinta manusia. Baginda mendahulukan cinta Allah di atas segala-galanya. Baginda sangat menyedari bahwa bila Allah telah mencntai dirinya, maka mudah saja bagi Allah untuk menanamkan cinta ke dalam hati manusia terhadap dirinya, akan tetapi bila Allah sudah mebenci dirinya apalah gunanya cinta manusia terhadap dirinya. Sebab cinta manusia terhadap dirinya tidak mampu menjamin datangnya cinta Allah kepadanya.

Dari Nabi Muhammad s.a.w baginda bersabda: “Bila Allah mencintai seorang hamba, maka Allah berseru kepada Jibril: “Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah dia.” Jibrilpun mencintainya. Kemudian Jibril berseru kepada penghuni langit: ”Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka kalian cintailah dia.” Penghuni langitpun mencintainya. Kemudian ditanamkanlah cinta penghuni bumi kepadanya.” (HR Bukhary 5580)

Kedua, Nabi Daud a.s memohon kepada Allah cinta orang-orang yang mencintai Allah. Sesudah mengharapkan cinta Allah lalu Nabi Daud a.s memohon kepada Allah kasih-sayang dari orang-orang yang mencintai Allah, sebab orang-orang tersebut tentunya adalah orang yang beriman sejati yang sememangnya patut diharapkan cintanya. Hal ini sangat berkaitan dengan Al-Wala’ (cinta dan mendekatkan diri) dan Al-Bara’ (benci dan menjauhkan diri). Yang dimaksud dengan Al-Wala’ ialah memelihara cinta dan mendekatkan diri kepada Allah, RasulNya dan orang-orang beriman. Sedangkan yang dimaksud dengan Al-Bara’ ialah benci dan menjauhkan diri dari kaum kuffar dan munafiq. Karena cinta mu’min hendaknya kepada Allah, RasulNya dan orang-orang beriman, maka Nabi Daud a.s berdoa agar dirinya dipertemukan dan dipersatukan dengan kalangan orang yang beriman dan sentiasa mencintai Allah. Dan Nabi Daud a.s sangat meyakini akan hal ini.

Sesungguhnya Rasulullah s.a.w bersada: “Roh-roh manusia diciptakan laksana askar-askar yang berbaris, maka mana yang saling kenal di antara satu sama lain akan bersatu. Dan mana yang saling mengingkari diantara satu sama lain akan berpisah.” (HR muslim 4773)

Ketiga, Nabi Daud a.s memohon kepada Allah agar ditunjuk perbuatan-perbuatan yang dapat mendatangkan cinta Allah. Setelah memohon cinta Allah kemudian cinta para pecinta Allah, selanjutnya Nabi Daud a.s memohon kepada Allah agar ditunjuk perbuatan dan amal kebajikan yang mendatangkan cinta Allah. Nabi Daud a.s sangat bimbang kalau-kalau baginda melakukan hal-hal yang dapat mendatangkan kemurkaan Allah. Baginda sangat bimbang apabila berbuat sesuatu dengan hanya memikirkan bahawa Allah pasti mencintainya disebabkan oleh niat yang baik sedangkan kualiti dan perlaksanaan amalnya bermasalah. Maka Nabi Daud a.s sangat memerhatikan apa sahaja perkara yang dapat mendatangkan cinta Allah pada dirnya. Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Allah mencintai Ash-Shobirin (orang-orang yang sabar). Siapakah yang dimaksudkan dengan Ash-Shobirin? Apakah sifat dan perbuatan mereka sehingga dicintai Allah?

”Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS Ali Imran ayat 146)

Keempat, Nabi Daud a.s memohon kepada Allah agar menjadikan cinta Allah sebagai hal yang lebih baginda utamakan daripada dirinya sendiri, keluarganya dan air dingin. Pada bahagian akhir doa ini Nabi Daud a.s kembali menegaskan betapa baginda sangat mengharap dan mengutamakan cinta Allah. Sehingga baginda memohon kepada Allah agar cinta Allah yang didambakan itu jangan sampai terkalah oleh cinta kepada dirinya sendiri, terhadap keluarganya sendiri dan terhadap air dingin.

Mengapa di dalam doanya Nabi Daud a.s perlu mewujudkan pertembungan diantara cinta Allah dengan cinta kepada dirinya sendiri, keluarganya dan air dingin? Sebab kebanyakan manusia bilamana harus memilih diantara mengorbankan diri dan keluarga dengan mengorbankan prinsip hidup pada umumnya lebih rela mengorbankan prinsip hidupnya. Yang penting bagi mereka jangan sampai diri dan keluarga dikorbankan. Kenapa air dingin? Kerana air dingin mewakili kenikmatan dunia yang indah dan menggoda. Pada umumnya orang rela mengorbankan prinsip hidupnya asal jangan mengorbankan kelazatan duniawi yang telah dimilikinya.

Jadi pada bahagian terakhir doa Nabi Daud a.s mengandungi pesanan pengorbanan. Baginda lebih rela mengorbankan segalanya, termasuk dirinya sendiri, keluarganya sendiri mahupun kesenangan duniawinya asalkan jangan sampai baginda mengorbankan cinta Allah. Baginda amat mendambakan cinta Allah.

Doa Nabi Daud a.s ini sangat bertepatan dengan maksud Al-Qur’an:

“Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khuwatir kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS At-Taubah ayat 24).

Read more...

Monday, October 31, 2011

Sudah Bersediakah Kita??..

video
SakaratulMaut - Nada Murni

Diriwayatkan bahawa pada suatu hari Rasulullah S.A.W sedang duduk bersama para sahabat, kemudian datang pemuda Arab masuk ke dalam masjid dengan menangis. Apabila Rasulullah S..A.W melihat pemuda itu menangis maka baginda pun berkata, "Wahai orang muda kenapa kamu menangis?" Maka berkata orang muda itu, "Ya Rasulullah S.A.W, ayah saya telah meninggal dunia dan tidak ada kain kafan dan tidak ada orang yang hendak memandikannya".

Lalu Rasulullah S.A.W memerintahkan Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. ikut orang muda itu untuk melihat masalahnya. Setelah mengikut orang itu, maka Abu Bakar r.a dan Umar r.a. mendapati ayah orang muda itu telah bertukar rupa menjadi babi hitam, maka mereka pun kembali dan memberitahu kepada Rasulullah S.A.W, "Ya Rasulullah S.A.W, kami lihat mayat ayah orang ini bertukar menjadi babi hutan yang hitam". Kemudian Rasulullah S.A.W dan para sahabat pun pergi ke rumah orang muda dan baginda pun berdoa kepada Allah S.W.T, kemudian mayat itu pun bertukar kepada bentuk manusia semula. Lalu Rasulullah S.A.W dan para sahabat menyembahyangkan mayat tersebut.

Apabila mayat itu hendak dikebumikan, maka sekali lagi mayat itu berubah menjadi seperti babi hutan yang hitam, maka Rasulullah S.A.W pun bertanya kepada pemuda itu, "Wahai orang muda, apakah yang telah dilakukan oleh ayahmu sewaktu dia di dunia dulu?"

Berkata orang muda itu, "Sebenarnya ayahku ini tidak mahu mengerjakan solat." Kemudian Rasulullah S.A.W bersabda, "Wahai para sahabatku, lihatlah keadaan orang yang meninggalkan sembahyang. Di hari kiamat nanti akan dibangkitkan oleh Allah S.W.T seperti babi hutan yang hitam."

Di zaman Abu Bakar r.a ada seorang lelaki yang meninggal dunia dan sewaktu mereka menyembahyanginya tiba-tiba kain kafan itu bergerak. Apabila mereka membuka kain kafan itu mereka melihat ada seekor ular sedang membelit leher mayat tersebut serta memakan daging dan menghisap darah mayat. Lalu mereka cuba membunuh ular itu.

Apabila mereka cuba untuk membunuh ular itu, maka berkata ular tersebut, "Laa ilaaha illallahu Muhammadu Rasulullah, mengapakah kamu semua hendak membunuh aku? Aku tidak berdosa dan aku tidak bersalah. Allah S.W.T yang memerintahkan kepadaku supaya menyeksanya sehingga sampai hari kiamat."

Lalu para sahabat bertanya, "Apakah kesalahan yang telah dilakukan oleh mayat ini?"

Berkata ular, "Dia telah melakukan tiga kesalahan, di antaranya :

1. Apabila dia mendengar azan, dia tidak mahu datang untuk sembahyang berjamaah
2. Dia tidak mahu keluarkan zakat hartanya
3. Dia tidak mahu mendengar nasihat para ulama"

Maka inilah balasannya.

Read more...

Sunday, October 30, 2011

Azan Dan Kisahnya...


Dari Abdullah bin Umar katanya: ”Adalah kaum muslimin ketika baru sampai di kota Madinah, berkumpul menunggu waktu sembahyang kerana belum ada cara untuk memberitahu. Pada suatu hari mereka itu bermesyuarat tentang cara pemberitahuan waktu; ada yang mengatakan supaya menggunakan loceng seperti Nasrani dan ada pula yang mengatakan supaya menggunakan trompet seperti Yahudi. Maka berkata Umar bin al-Khattab r.a: ”Bukankah lebih baik menyuruh seseorang meneriakkan atau memberitahukan waktu sembahyang?” Bersabda Rasulullah s.a.w: ”Hai Bilal, pergilah dan ajaklah orang-orang bersembahyang.”(Muslim)

Huraian :
Ketika orang-orang Islam masih sedikit jumlahnya, kesulitan tidak timbul untuk mereka berkumpul bersama-sama bagi menunaikan solat secara berjemaah. Namun semakin hari semakin ramai bilangan orang-orang Islam sehingga timbullah masalah untuk memanggil atau mengingatkan mereka untuk menunaikan solat pada waktunya, kerana setiap orang mempunyai potensi terhadap kealpaan ataupun kelalaian pada diri masing-masing disebabkan oleh berbagai-bagai urusan kehidupan yang dijalani mereka.

Oleh sebab itu wujudlah mesyuarat yang membincangkan tentang keperluan bagaimana cara yang harus dilakukan untuk mengingat dan memanggil semua orang untuk solat tepat pada waktunya. Ada banyak cadangan yang diusulkan seperti yang diceritakan di dalam hadis. Salah satu daripada usul itu datang dari Umar r.a yang mencadangkan agar diperintahkan seseorang yang bertindak sebagai pemanggil kaum Muslimin untuk mengerjakan solat pada setiap kali masuknya waktu solat. Saranan ini kebanyakannya dipersetujui oleh semua orang, termasuk Rasulullah s.a.w. memandangkan banyak cadangan-cadangan yang lain lebih mirip kepada kaum kafir. Namun, yang menjadi persoalannya kini ialah bagaimana perlaksanaannya?

Abu Dawud mengisahkan bahawa Abdullah bin Zaid r.a meriwayatkan : "Ketika cara memanggil kaum Muslimin untuk solat dimusyawarahkan, suatu malam dalam tidur aku bermimpi melihat ada seseorang sedang memegang sebuah loceng. Aku dekati orang itu dan bertanya kepadanya apakah ia ada maksud hendak menjual loceng itu. Jika memang begitu aku memintanya untuk menjual kepada aku saja. Orang tersebut malah bertanya, "Untuk apa ? Aku menjawabnya, "Bahawa dengan membunyikan loceng itu, kami dapat memanggil kaum Muslimin untuk menunaikan solat. "Orang itu berkata lagi, "Adakah kau mahu jika ku ajarkan cara yang lebih baik ? "Dan aku menjawab "Ya ! "Lalu dia berkata lagi, dan kali ini dengan suara yang amat lantang , "Allahu Akbar, Allahu Akbar.."

Ketika esoknya aku bangun, aku menemui Rasulullah s.a.w dan menceritakan perihal mimpi itu kepada baginda. Dan baginda bersabda: "Itu mimpi yang sebetulnya nyata. Berdirilah di samping Bilal dan ajarkan dia bagaimana mengucapkan kalimat itu. Dia harus mengumandangkan azan seperti itu dan dia memiliki suara yang amat lantang. "Lalu aku pun melakukan hal itu bersama Bilal. "Rupanya, mimpi yang serupa dialami pula oleh Umar r.a, beliau juga menceritakannya kepada Rasulullah s.a.w. Baginda s.a.w bersyukur kepada Allah SWT di atas semua petunjuk tersebut.

Azan mula disyariatkan pada tahun pertama hijrah. Bilal r.a. telah menambah pada azan subuh dengan lafaz "As solatu khairuminan naum." (Sembahyang itu lebih baik daripada tidur). Dan ia dipersetujui oleh Rasulullah saw. Apabila tiba bulan ramadhan, Rasulullah s.a.w. telah menyuruh azan dua kali pada waktu subuh. Azan yang pertama bagi mengingatkan orang Islam supaya bersahur. Ada pun azan pada sembahyang jumaat sekali sahaja, sehingga zaman Khalifah Saidina Osman r.a. Apabila manusia bertambah ramai dan ada yang masih leka selepas azan zuhur maka Saidina Osman r. a. memerintahkan diazankan sekali lagi apabila imam menaiki mimbar.
Read more...

Zulaikha Dan Keagungan Cintanya


Siapa kata Zulaikha wanita yang tidak tahu menjaga kehormatan diri? Siapa kata Zulaikha wanita yang hina? Siapa kita untuk menghakimi Zulaikha kerana jika tidak kerana kedudukannya yang mulia, tidak akan dia diangkat darjatnya untuk sehidup semati dengan Nabi Allah Yusuf A.S.? Seperti yang diterangkan di dalam Al-Quran, di dalam Surah Yusuf, Allah mengkhabarkan sejelas-jelasnya kisah yang terjadi beribu-ribu tahun yang lampau.

Walaupun jarak masa yang terlalu jauh antara kita dengan Nabi Allah Yusuf, namun mengenalinya seperti kita mengenali saudara kita sendiri. Kisah seorang insan pilihan Allah yang diberikan mukjizat menghuraikan perkara mimpi. Kerana kelebihannya inilah, dia dicampakkan ke dalam sumur sehingga membawanya kepada sebuah pengembaraan yang jauh ke Negeri Mesir.

Allah mengurniakan lagi kelebihan kepada baginda berupa wajah yang tersangat tampan hatta tiada dapat ditandingi oleh mana-mana lelaki di dalam dunia ini. Kerana kekacakan baginda ini makanya baginda terperangkap dengan gelora nafsu Zulaikha iaitu isteri kepada Abdul Aziz. Dengan pujuk rayu, Zulaikha cuba menarik Yusuf agar melakukan kemungkaran namun Yusuf berlindung dengan Allah dari sebarang kemaksiatan. Melihatkan pujuk rayunya tidak berhasil, Zulaikha berkeras sehingga akhirnya dia menarik belakang baju Yusuf sehingga terkoyak di bahagian belakangnya. Semua yang dilakukan oleh Zulaikha itu adalah didasari pada gelora nafsunya yang tidak tertahan sehingga Zulaikha hilang pertimbangan.

Bagi mengelakkan terjadinya perkara seumpama itu, Yusuf merelakan dirinya dibuang ke dalam penjara sehingga akhirnya membawa kepada takwil mimpi Raja yang mengembalikan Yusuf kepada kemuliaan setelah dilantik menjadi wazir Negeri Mesir. Ini semua dinyatakan dengan terang di dalam Al-Quran. Namun perkahwinan antara Yusuf dengan Zulaikha tidak dinyatakan Cuma hal ini telah diriwayatkan di dalam Kitab Tarikh At-Tabari karangan Abi Jaafar Muhammad ibn Jarir Al-Tabari (838-923) yang memperihalkan tentang kisah para Nabi dan Kaisar dahulu kala, ada menyentuh tentang hal ini. Menurut kitab tersebut, setelah Yusuf dipenjarakan, Zulaikha masih tidak dapat membuangkan rasa cintanya terhadap Yusuf. Memandangkan hal itu, suaminya Abdul Aziz itu lantas menceraikannya dan membiarkan Zulaikha hidup terkontang-kanting keseorangan.

Zulaikha hilang segala-galanya yang pernah dimilikinya suatu masa dahulu. Dia kehilangan kekayaannya, kekuasaannya, kecantikannya dan yang paling besar, Zulaikha kehilangan pandangan matanya. Ini kerana Zulaikha dikatakan menangis sehingga keluar airmata darah kerana merindui Yusuf selama Yusuf dipenjara menyebabkan matanya rosak dan seterusnya buta. Dia berdoa kepada Berhala agar dikurniakan semula pandangan matanya agar suatu hari kelak dia berupaya bertemu dan melihat Yusuf kembali. Namun batu tetap batu. Zulaikha kemudian menyedari kekhilafannya dan kesesatan jalan hidupnya selama ini. Keinsafan itu membawa kepada Zulaikha mencari cinta teragung yang menemukan Zulaikha dengan cinta kepada penciptanya. Zulaikha menemui cinta teragung itu dan di hatinya kini hanya ada Allah.

Suatu hari sewaktu Nabi Allah Yusuf berjalan melihat Bandaraya Mesir yang sibuk itu, Yusuf telah bertemu dengan Zulaikha di dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Zulaikha buta dan bergelandangan di tepi jalan yang sibuk. Melihatkan akan hal itu, Yusuf merasa sebak dan terus membawa Zulaikha pulang untuk dirawat. Setelah sembuh dirawat, menurut sesetengah pendapat mengatakan buta mata Zulaikha dirawat sebagaimana kaedah rawatan ke atas Nabi Allah Yaakob A.S. Dengan izin Allah, Zulaikha dapat melihat kembali. Allah kemudiannya mengembalikan keremajaan dan kecantikan Zulaikha sehingga menyebabkan Yusuf jatuh cinta kepadanya. Mereka kemudiannya diijabkabulkan.

Di malam pengantin mereka, Yusuf telah bersiap-siap berdandan untuk sebuah pertemuan bagi melepaskan rindu berahi. Namun timbul masalah. Zulaikha tidak berhenti-henti beribadat dan berzikir sehingga Yusuf merasa sudah tidak sabar lagi. Akhirnya Yusuf menarik baju Zulaikha sehingga terkoyak baju Zulaikha di bahagian belakang. Di saat itu menjelma Malaikat Jibrail… “Hai Yusuf!! Sesungguhnya baju dengan baju. Maka dengan ini tertebuslah maruah Zulaikha!!” Berbahagialah mereka berdua kemudiannya sehingga ke akhir hayat. Hasil perkongsian hidup mereka, lahirlah seorang anak perempuan yang tersangat cantik bernama Rahmah yang kemudiannya brkahwin dengan Nabi Allah Ayub A.S.
Read more...